Jumat, 08 Oktober 2010

"dr Poch 'Hitler' Masuk Islam"

Senin, 22 Februari 2010, 14:35 WIB


VIVAnews - Adolf Hitler, diktator Jerman dan orang yang diyakini bertanggung jawab atas pembantaian bangsa Yahudi, diduga menghabiskan akhir hayatnya di Indonesia -- sebagai dr Poch, dokter tua asal Jerman.

Menurut mantan pasiennya, Ahmad Zuhri Muhtar (55), dr Poch tinggal di rumah dinas dokter di Kompleks Rumah Sakit Sumbawa bersama istrinya yang asal Jerman.

Ketika istrinya itu kembali ke negeri asalnya, Poch lalu kesepian. "Dia menyendiri lalu kawin lagi dengan istinya yang asal [Pulau] Jawa, saya tidak tahu persisnya, mungkin Garut," kata Ahmad kepada VIVAnews, Senin 22 Februari 2010.

Ada lagi fakta menarik soal dr Poch yang diungkap Ahmad. Kata dia, dr Poch bahkan masuk Islam karena menikah dengan perempuan muslim.

Leia mais...

Dr. Hembing dan Islam

Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam
kondisi apapun. Ia juga akan selalu melakukan introspeksi sehingga ia akan
mampu mengontrol dan mengendalikan diri.

Health is not everything but without health we can do nothing." Kesehatan
bukanlah segala-galanya namun tanpa kesehatan kita tidak bisa berbuat
apa-apa. Menurut penelitian Dale tahun 1980, manusia di dunia ini mengalami
sakit fisik hanya 15 persen. Selebihnya adalah sakit jiwa (85 persen).
''Saatnya kita memberikan perhatian yang serius terhadap kesehatan jiwa ini,
' ujar cendekiawan Muslim Prof Dr AM Fatwa, saat berbicara dalam bedah buku
Kesehatan Mental; Kajian Sudut Pandang Agama dan Sosial Kemasyarakatan karya
Dr Weriyanto Prasojo SpKj, di Masjid Agung Pondok Indah, Ahad (21/5).
Menurut dia, kesehatan mental sangat penting dalam membentuk perilaku yang
benar dan mulia. Sementara di sisi lain, kondisi kesehatan mental masyarakat
Indonesia semakin hari semakin menurun. ''Gejala-gejala gangguan mental
semakin meningkat pesat,'' tambahnya

Leia mais...

Kisah Dokter Amerika Masuk Islam

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim,

”Engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini..!!”


Leia mais...

Penelitian Mumi Firaun Prof Dr Maurice Bucaille dari Perancis

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L'Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Leia mais...

Minggu, 01 Agustus 2010

HASAN AL BASHRY

Hasan al-Bashri adalah salah seorang tokoh sufi awal baik dalam arti umum atau pun dalam arti harfiahnya, karena ia selalu mengenakan jubah dari bulu domba (shûf) sepanjang hidupnya. Sebagai putra dari perempuan yang dimerdekakan (dari Ummu Salamah, isteri Nabi saw.) dan laki-laki yang dimerdekakan (dari Zaid Ibn Tsabit, putra angkat Nabi saw.), Imam Besar dari Bashrah ini adalah seorang pemimpin para wali dan ulama pada masanya. Beliau sangat dikenal luas karena pengejawantahannya yang menyeluruh dan ketat terhadap sunah Nabi saw.. Beliau juga terkenal karena pengetahuannya yang luas, kesederhanaan dan kezuhudannya, protesnya yang berani terhadap penguasa, dan daya tariknya baik dalam perkataan atau penampilannya.

Ibnu al-Jauzi menulis sebuah buku setebal seratus halaman tentang kehidupan dan kebiasaannya dengan judul Adab al-Syaikh al-Hasan Ibn Abil-Hasan al-Bashri. Ia menyebutkan sebuah riwayat bahwa, tatkala wafat, al-Hasan meninggalkan sebuah jubah wol putih yang telah ia pakai sendiri selama dua puluh tahun, baik di musim dingin atau di musim panas. Jubah tersebut masih dalam keadaan bagus, bersih, rapi dan tak ada kotoran.1

Dalam sebuah buku yang khusus mencatat perbuatan-perbuatan kaum sufi, Ibn Qayyîm meriwayatkan:
Sekelompok perempuan keluar pada hari `id dan berusaha melihat orang-orang. Mereka ditanyai, “Siapakah orang paling elok yang kalian lihat pada hari ini?” Mereka menjawab, “Itu syekh yang mengenakan turban hitam.” Yang mereka maksudkan adalah Hasan al-Bashri.

Hafiz hadis Abu Nuaim al-Isfahani (w. 430H) menyebutkan bahwa murid al-Hasan, yaitu Abdul Wahid Ibn Zaid (w. 177H), adalah orang pertama yang membangun khâniqa sufi, atau rumah singgah sekaligus tempat belajar di Abadan di perbatasan Iran dan Iraq di masa sekarang.
Atas dasar kemasyhuran Hasan al-Bashri dan murid-muridnya sebagai sufi, Ibn Taimiyyah menyatakan, “Tempat asal mula tasawuf adalah Bashrah.”
Pernyataan tersebut tidaklah tepat. Lebih tepatnya, Bashrah menonjol di antara

Selengkapnya

Leia mais...

Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani

Anggaplah kebaikan dan keburukan sebagai dua buah dari dua cabang
sebuah pohon. Cabang yang satu menghasilkan buah yang manis, sedang
cabang yang satunya lagi, buah yang pahit. Maka dari itu,
tinggalkanlah kota-kota, negeri-negeri yang menghasilkan buah-buah
pohon ini dan penduduknya.

Dekatilah pohon itu sendiri dan jagalah. Ketahuilah kedua cabang ini,
kedua buahnya, sekelilingnya, dan senantiasa dekatlah dengan cabang
yang menghasilkan buah yang manis; maka ia akan menjadi makananmu,
sumber dayamu, dan waspadalah agar kau tak mendekati cabang yang
lain, makan buahnya, dan akhirnya rasa pahitnya membinasakanmu. Jika
kau senantiasa berlaku begini, kau akan selamat dari segala
kesulitan, sebab kesulitan diakibatkan oleh buah pahit ini. Bila kau
jatuh dari pohon ini, berkelana di berbagai negeri, dan buah-buah ini
dihadapkan kepadamu, lalu dibaurkan sedemikian rupa, sehingga tak
jelas antara yang manis dan yang pahit, dan kau mulai memakannya,
bila tanganmu mengambil buah yang pahit, sehingga lidahmu merasakan
pahitnya, kemudian tenggorokanmu, otakmu, lubang hidungmu, sampai
anasir tubuhmu, maka kau terbinasakan. Pembuanganmu akan sisanya dari
mulutmu dan pencucianmu akan akibatnya tak dapat menghapus yang telah
tertebar di sekujur tubuhmu, dan sia-sia.

Selengkapnya

Leia mais...

TASAWUF

oleh Harun Nasution

Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.

ASAL KATA SUFI

Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata:

1. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa.

2. Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.

3. Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.

4. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.

5. Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.

Diantara semua pendapat itu, pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H).

Selengkapnya

Leia mais...

  ©BELAJAR HIDUP - Todos os direitos reservados.

Template by Dicas Blogger | Topo