Jumat, 08 Oktober 2010

Dr. Hembing dan Islam

Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam
kondisi apapun. Ia juga akan selalu melakukan introspeksi sehingga ia akan
mampu mengontrol dan mengendalikan diri.

Health is not everything but without health we can do nothing." Kesehatan
bukanlah segala-galanya namun tanpa kesehatan kita tidak bisa berbuat
apa-apa. Menurut penelitian Dale tahun 1980, manusia di dunia ini mengalami
sakit fisik hanya 15 persen. Selebihnya adalah sakit jiwa (85 persen).
''Saatnya kita memberikan perhatian yang serius terhadap kesehatan jiwa ini,
' ujar cendekiawan Muslim Prof Dr AM Fatwa, saat berbicara dalam bedah buku
Kesehatan Mental; Kajian Sudut Pandang Agama dan Sosial Kemasyarakatan karya
Dr Weriyanto Prasojo SpKj, di Masjid Agung Pondok Indah, Ahad (21/5).
Menurut dia, kesehatan mental sangat penting dalam membentuk perilaku yang
benar dan mulia. Sementara di sisi lain, kondisi kesehatan mental masyarakat
Indonesia semakin hari semakin menurun. ''Gejala-gejala gangguan mental
semakin meningkat pesat,'' tambahnya


Pendapat Fatwa diamini cendekiawan Muslim, dr Hembing Wijayakusuma. Menurut
dia, cukup hanya dengan dua aspek untuk menjelaskan apakah seseorang sehat
mentalnya atau sakit. ''Yaitu aspek ketuhanan untuk merujuk aspek positif
dan kesesatan untuk merujuk aspek negatif,'' ujarnya.
Aspek kesehatan mental, kata dia, sama dengan aspek ketuhanan atau keimanan.
Keimanan ini meliputi keyakinan, ucapan, dan perbuatan. ''Orang yang tidak
memiliki keyakinan positif, optimisme, ketulusan, integritas, loyalitas, dan
tanggung jawab bisa dipastikan mentalnya sakit.''
Demikian juga orang yang berbicara jelek, seperti: mengumpat, menghina,
menfitnah, menghasut, dan melakukan perbuatan amoral, seperti: mencuri,
membunuh, kolusi, serta korupsi. ''Pasti mental atau jiwanya sakit.''
Kenyataan bahwa di Indonesia penyakit gangguan jiwa atau mental meningkat
hingga 140 persen, menurut penelitian tahun 2004, menandakan adanya
penurunan kualitas keimanan masyarakat Indonesia. ''Nilai-nilai ketuhanan
yang seharusnya ditumbuhkembangkan di dunia ini, justru ditinggalkan dan
diacuhkan.''
Solusi terbaik yang bisa mengatasi masalah ini, kata Hembing, adalah dengan
mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. ''Islam adalah
ajaran yang paling sempurna dibanding semua agama yang pernah ada di dunia
ini, baik dari aspek politik, hukum, biologi, antropologi, teologi, maupun
aspek lainnya,'' tambah peraih Mualaf Award dari Jakarta International
Muslim Society (JIMS) ini.
Bambang Suryadi MA, selaku pembedah buku tersebut mendefinisikan secara
gampang mengenai kehatan jiwa. Menurut dia, salah satu cara yang paling
mudah untuk mendefinisikan apapun, termasuk kesehatan mental adalah
mengungkapkan lawan katanya. Dengan demikian, sehat mental adalah terhindar
dari penyakit mental. ''Kesehatan mental seseorang bisa ditandai dengan
kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mengembangkan
potensi dirinya untuk menggapai ridha Allah swt., dan menyeimbangkan seluruh
aspek kecerdasan, yaitu: kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual,''
ujarnya.
Pada dasarnya, hidup adalah proses penyesuaian diri terhadap seluruh aspek
kehidupan. Orang yang tidak mampu beradapatasi dengan lingkungannya akan
gagal dalam menjalani kehidupannya. ''Proses penyesuaian diri atau self
adjusment ini akan bisa diaplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan dengan
pengenalan diri,'' ujarnya.
Kesehatan mental juga bisa dilihat dari kondisi jiwanya. Orang yang sehat
mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun. Ia juga
akan selalu melakukan introspeksi sehingga ia akan mampu mengontrol dan
mengendalikan diri.
Ia menyatakan, pengenalan dan pembinaaan kesehatan mental masyarakat saat
ini tidaklah mudah. Kesulitan ini setidaknya disebabkan oleh dua faktor,
yaitu faktor internal dan eksternal. Selain persepsi ataupun pemahaman
terhadap kesehatan mental sangat lemah, mereka dewasa ini dihadapkan pada
tantangan kehidupan modern yang begitu sulit. ''Keanekaragaman makanan,
pakaian, budaya, dan pemikiran yang tidak mudah terdeteksi aspek kehalalan,
kebaikan, dan kebenarannya, sangat mempengaruhi kualitas kesehatan mental
seseorang,'' ujarnya.
Untuk mewujudkan kesehatan mental ini, kata dia, harus saling menjaga tiga
hal berikut ini dengan baik dan benar, yaitu: kesehatan (health), perhatian
care, dan pendidikan atau pengabdian. Di akhir ulasannya, ia menegaskan
bahwa kesehatan, baik fisik ataupun mental, adalah anugerah yang tinggi
nilainya namun tak bisa dibeli dengan uang.

Puasa Ala Hembing Wijayakusuma
Ramadhan Oleh : Redaksi 05 Oct 2006 - 12:12 am
imageBagi Hembing Wijayakusuma puasa menjadi sarana untuk menyeimbangkan kesehatan lahir dan batin. Pakar pengobatan tradisional ini menyiapkan ramuan dari tumbuhan yang dijadikannya menu berbuka puasa.

Jakarta: Tidak ada yang berubah pada keseharian Hembing Wijayakusuma, meski di bulan Ramadan sekalipun. Setiap hari, ahli pengobatan tradisional ini tetap bekerja di kantornya di kawasan Petamburan, Jakarta pusat. Di tempat praktiknya ini, ia melakukan terapi pengobatan kepada pasiennya. Mulai dari akupuntur hingga pemberian ramuan obat tradisional dari tumbuh-tumbuhan. Saat ini, Hembing mempekerjakan 30 karyawan.

Alhamdulilahhirobbinalamiiinn

0 komentar:

Posting Komentar

  ©BELAJAR HIDUP - Todos os direitos reservados.

Template by Dicas Blogger | Topo